*

*

Ads

Kamis, 17 Agustus 2017

Pendekar Sadis Jilid 191 (TAMAT)

"Jadi itukah sebabnya maka engkau memusuhi kami?" tanya Thian Sin.

"Kalian merusak rencanaku, siapa tidak akan membenci kalian!"

"Dan apa yang kau lakukan untuk membakar hati para pimpinan Kun-lun-pai?" desak lagi Thian Sin.

"Kukatakan kepada mereka bahwa sebelum meninggal, sering kali Jit Goat Tosu bercerita kepadaku tentang kejahatan sutenya sehingga kematiannya karena serbuan kalian itu menimbulkan penasaran besar, dan kuhasut mereka untuk menuntut balas mengingat akan kebaikan Jit Goat Tosu yang sudah menurunkan pula beberapa macam ilmu kepada pimpinan Kun-lun-pai..."

"Hemm, dan apa artinya kedatanganmu ke pulau keluargaku bersama para bajak ini?" tanya Kim Hong.

"Setelah berhasil memanaskan hati para pimpinan Kun-lun-pai sehingga mengejar-ngejar kalian, aku lalu pergi kesini mengumpulkan bekas rekan-rekanku. Sudah sejak dahulu ketika aku menjadi bajak laut, aku tahu akan ditemukannya pusaka oleh ayah dan ibumu, dan aku sudah beberapa kali berusaha untuk merampasnya, akan tetapi selalu gagal... ahhh, ayah bundamu terlalu lihai, dan juga kegagalan-kegagalan itu, bahkan yang terakhir hampir merenggut nyawaku, yang membuat aku kecewa lalu menjadi tosu. Siapa kira, aku bertemu dengan suheng ayahmu, maka aku mengambil hatinya dengan maksud mempelajari ilmu-ilmunya untuk merajai Kun-lun-pai dan kemudian akan kucari pusaka peninggalan Menteri The Hoo. Akan tetapi kematian Jit Goat Tosu menggagalkan semuanya..."

"Ah, kiranya engkau pernah gagal membajak mendiang ayahku maka engkau menaruh dendam kepadaku? Bagus sekali!" Kim Hong menghampiri dengan sikap mengancam.

"Cukup Kim Hong. Kita sudah berjanji akan membebaskannya. Nah, muka Tikus Lautan, engkau boleh pergi sekarang!" kata Thian Sin sambil memberi isyarat dengan pandang matanya kepada Kim Hong.

"Terima kasih... terima kasih...!" kata tosu itu yang sama sekali tidak pernah mimpi bahwa dia akan terbebas dari kematian mengerikan di tangan Pendekar Sadis!

Maka, seperti seekor tikus yang baru saja disiram air, dengan pakaian basah kuyup tosu itu lalu bangkit dan hendak lari dari perahu itu, akan tetapi tiba-tiba wajahnya menjadi pucat sekali dan dia menjatuhkan dirinya berlutut.

"Suhu... tolonglah teecu... hampir saja teecu dibunuh Pendekar Sadis yang telah menyiksa teecu..." katanya dengan suara gemetar.

Thian Sin dan Kim Hong membalikkan tubuh mereka dan pura-pura bersikap kaget dan heran melihat munculnya Kui Yang Tosu dan lima orang tosu Kun-lun-pai lainnya, juga nampak Liang Sim Cinjin pertapa Kang-lam itu, dan dua orang Bu-tong-pai wakil dari Thian Heng Losu, juga nampak Lo Pa San, pendekar dari Po-hai itu dan beberapa orang lain yang pernah hadir dalam pertemuan para pendekar di Kun-lun-san!

Melihat mereka itu, yang memang sudah diketahuinya sejak tadi oleh Thian Sin dan Kim Hong, kedua orang muda ini lalu meloncat meninggalkan perahu dan berdiri berdampingan di pantai, siap menghadapi segala kemungkinan.






Mereka merasa lebih aman berada di atas pulau daripada di atas perahu, apalagi dengan adanya ahli-ahli silat dalam air seperti Tikus Laut yang lihai itu. Thian Sin sendiri cukup mengerti bahwa melawan Tikus Laut seorang saja, kalau bertanding di air, mungkin sekali dia akan celaka. Dan berada di atas perahu berbahaya sekali, siapa tahu mereka akan menggulingkan perahu!

Akan tetapi, para tosu Kun-lun-pai dan teman-temannya itu agaknya tidak menghiraukan mereka dan Kui Yang Tosu kini melangkah maju mendekati Tikus Laut. Wajah kakek yang merupakan tokoh ke dua dari Kun-lun-pai ini masih nampak berkilat penuh api kemarahan. Suaranya juga masih halus ketika dia bertanya kepada Muka Tikus Laut itu,

"Bagaimana engkau bisa berada di tempat ini?"

"Suhu, teecu pernah mendengar tentang pulau ini dan teecu membantu suhu untuk menyelidiki Pendekar Sadis dan Lam-sin yang teecu duga tentu melarikan diri kesini. Dan benar saja... akan tetapi teecu ketahuan dan ditangkap dan disiksa, nyaris dibunuh secara keji, dijadikan umpan ikan-ikan hiu..."

"Dan siapakah bajak-bajak laut itu dan milik siapa pula perahu ini?" Suara Kui Yang Tosu makin lantang dan pandang matanya semakin berapi-api.

Akan tetapi agaknya tosu bekas bajak itu tidak sadar akan tanda-tanda ini atau memang dia sudah terlanjur melangkah dan tidak mungkin mundur kembali.

"Bajak-bajak itu adalah kaki tangan Pendekar Sadis..."

Akan tetapi tosu itu tidak melanjutkan kata-katanya karena dengan langkah lebar Kui Yang Tosu menghampirinya, mukanya merah dan matanya melotot, dadanya naik turun menahan kemarahan.

"Penipu! Pembohong! Pengkhianat kau manusia busuk!' Dan kaki wakil ketua Kun-lun-pai itu bergerak menendang.

"Desss...!" Dan tubuh tosu bermuka tikus itu terlempar keluar dari perahu itu, jatuh ke dalam air!

Ketika semua orang memandang, wajah mereka berubah dan mata mereka terbelalak melihat puluhan ekor ikan hiu menyerbu ke arah tubuh yang baru saja terjatuh ke air itu. Terdengar jeritan-jeritan mengerikan yang berhenti tiba-tiba ketika tubuh itu terseret ke bawah permukaan air. Air bergelombang dan mulai berubah warnanya menjadi merah di tempat dimana tosu tadi jatuh.

"Siancai...!"

Kui Yang Tosu memejamkan kedua matanya, alisnya berkerut dan kedua tangannya dirangkap ke depan dada.

Sampai lama dia tidak bergerak, wajahnya berkerut-kerut dan akhirnya, setelah beberapa kali dia menarik napas panjang, diapun membuka matanya, lalu dengan tubuh nampak lemas dan lesu dia menuruni perahu itu menghampiri Thian Sin dan Kim Hong yang masih berdiri melihat semua itu dengan sikap tenang waspada.

Kui Yang Tosu menjura kepada mereka. Suaranya terdengar lirih,
"Ceng-taihiap, Toan-lihiap, maafkan pinto yang tak dapat mengendalikan perasaan..."

Thian Sin dan Kim Hong membalas penghormatan itu dan Thian Sin berkata,
"Saya sudah sering kali mengalami perasaan itu, locianpwe, membuat mata gelap dan menimbulkan tindakan pembalasan yang membuat saya dinamakan Pendekar Sadis. Saya mengerti dan locianpwe tidak bersalah, wajarlah sebagai manusia biasa kadang-kadang dikuasai oleh amarah."

Kui Yang Tosu kembali menarik napas panjang penuh penyesalan betapa karena marahnya dia telah membunuh Si Tikus tadi, bahkan dengan cara yang mengerikan, tanpa disengaja dia memberikan tosu itu kepada ikan-ikan hiu!

"Tidak pinto kira bahwa dia yang telah kami percaya itu akan melakukan fitnah seperti itu demi kepentingan dirinya dan pemuasan nafsunya," kata pula Kui Yang Tosu.

Thian Sin tersenyum dan mengangguk,
"Locianpwe, saya sendiripun pernah mengalami penipuan seperti itu dan menjadi korban fitnah sehingga melakukan hal yang amat buruk. Tentu locianpwe ingat akan kematian Pangeran Toan Ong? Nah, ketika itupun saya mendengar fitnah orang yang saya percaya."

Kui Yang Tosu mengangguk-angguk.
"Siancai...! Betapa lemahnya kita manusia ini. Kita perlu banyak belajar, Ceng-taihiap..."

"Benar, locianpwe, kita harus tetap belajar selama masih hidup."

"Maafkan pinto, kini Kun-lun-pai baru mengerti dan mulai saat ini kami tidak lagi memusuhimu, taihiap."

"Terima kasih, locianpwe, dan sayapun akan belajar agar tidak mudah membiarkan diri dikuasai nafsu dendam dan kekejaman terhadap musuh."

Kui Yang Tosu lalu berpamit kepada Thian Sin dan Kim Hong, kembali ke tempat dimana perahu mereka tersembunyi, diikuti oleh para pendekar lain yang juga berpamit dengan sikap bersahabat.

Thian Sin dan Kim Hong memandang kepada mereka sampai perahu mereka tidak nampak lagi dan tiba-tiba Kim Hong merangkul Thian Sin dengan hati penuh kegirangan dan kebahagiaan. Thian Sin maklum apa yang dirasakan oleh kekasihnya karena diapun merasakan sesuatu kebahagiaan besar menyelubungi hatinya, maka diapun tidak berkata apa-apa kecuali balas merangkul gadis itu.

Sampai lama mereka saling rangkul dan tidak mengeluarkan kata-kata. Kata-kata tidak ada artinya lagi dalam keadaan seperti saat itu. Mereka merasa seolah-olah ada batu besar yang selama ini menindih hati mereka berdua telah terangkat dan mereka merasakan suatu kebebasan yang amat nikmat dalam hati mereka.

Dan bagi Thian Sin terutama sekali, teringatlah kembali semua kata-kata kakaknya. Kekerasan hanya akan mengakibatkan kekerasan pula. Akibat tidak akan pernah terlepas daripada sebab, akibat hanyalah lanjutan daripada sebab. Dan sebab adalah cara dalam tindakan kita sendiri.

Cara yang buruk takkan mungkin mendatangkan akibat yang baik, seperti juga benih buruk takkan mungkinlah menumbuhkan pohon yang baik. Tak mungkinlah mengharapkan bunga indah tumbuh menjadi buah lewat dari tanaman beracun. Siapa menanam, dia sendiri yang akan memetik buah daripada hasil tanamannya. Sayang seribu kali sayang, kita hanya selalu mengingat-ingat akan panen buah lezat saja, tak pernah kita memperhatikan penanamannya yang benar dan pemeliharaannya yang benar.

Mata kita selalu tertuju jauh ke depan, kepada tujuan-tujuan dan harapan-harapan baik dan menyenangkan untuk kita, sama sekali tidak mau melihat perbuatan-perbuatan kita setiap saat sekarang inilah yang menjadi pohon penghasil buah dimasa mendatang. Bukan buahnya yang penting, melainkan pohonnya, pemeliharaan pohonnya. Buah yang baik, hanyalah menjadi lanjutan dari pohon yang baik. Kita selalu mau enaknya saja.

Thian Sin dan Kim Hong lalu melakukan pemeriksaan ke seluruh bagian pulau itu dan mulailah mereka membangun kembali rumah yang banyak rusak itu. Untuk pekerjaan ini mereka mendatangkan pembantu-pembantu bayaran dan dalam waktu beberapa bulan saja Pulau Teratai Merah kembali menjadi sebuah pulau kecil yang indah.

Mereka berdua menghadiri perayaan pernikahan dari Cia Kong Liang di Cin-ling-pai dan bertemu dengan keluarga Cin-ling-pai dan Lembah Naga, juga bertemu dengan semua sahabat dan kenalan.

Kemudian, tak lama sesudah itu, Thian Sin dan Kim Hong juga menghadiri upacara perayaan pernikahan antara Cia Han Tiong dan Ciu Lian Hong yang diadakan secara sederhana di Lembah Naga. Di tempat ini, Thian Sin dan Kim Hong tinggal sampai satu bulan lebih.

Kim Hong telah diterima sebagai keluarga oleh keluarga di Lembah Naga. Akan tetapi kalau Cia Sin Liong dan isterinya menyinggung tentang pernikahan antara mereka, Thian Sin dan Kim Hong hanya saling pandang dan tersenyum.

"Ayah dan ibu, harap maafkan... akan tetapi kami sejak pertemuan pertama telah saling bersepakat untuk tidak mengikat diri masing-masing dengan pernikahan. Betapapun juga, kami saling mencinta..."

Mendengar ucapan itu, Cia Sin Liong dan isterinya hanya saling pandang dan menggeleng-geleng kepala mereka. Orang-orang muda memang makin lama makin aneh. Dunia berubah, atau lebih tepat lagi, manusia telah makin berubah. Kerinduan akan kebebasan membuat orang-orang muda makin lama makin cenderung untuk meninggalkan ikatan-ikatan dan hukum-hukum yang mungkin mereka anggap sebagai penghalang daripada kebebasan yang mereka dambakan.

Mereka itu, orang-orang muda itu, sama sekali tidak tahu bahwa kebebasan adalah urusan batin, bukan sekedar soal-soal lahir saja. Orang yang bebas hatinya takkan merasa terganggu walaupun diikat oleh seribu macam hukum. Sebaliknya, biarpun meninggalkan semua hukum, orang akan tetap terbelenggu batinnya dan sama sekali tidak bebas.

Sampai disini pengarang mengakhiri cerita ini dengan harapan semoga cerita ini selain dapat menghibur hati pembaca, juga mengandung manfaat sekedarnya bagi perjuangan kita mendayung biduk masing-masing menempuh gelombang-gelombang di samudera kehidupan yang luas ini.

Marilah kita melihat kenyataan bahwa biarpun tidak semua dapat disebut sadis, karena kekejaman turun temurun telah mengalir dalam diri kita, telah mendarah daging. Kita ini sadis! Kita ingin melihat orang-orang yang kita benci menderita kesengsaraan yang hebat! Kita akan senang melihat orang yang kita benci tersiksa. Benar atau tidakkah demikian? Hanya kita masing-masing yang dapat menjawab dengan menjenguk ke dalam batin sendiri!

Lalu bagaimana dengan Pendekar Sadis? Apa jadinya dengan Thian Sin dan Kim Hong di Pulau Teratai Merah? Apakah riwayat mereka habis sampai sekian saja? Harap para pembaca jangan khawatir. Cerita tentang mereka belum tamat.

Dan pengarang sedang menyusun cerita selanjutnya tentang mereka berdua. Anda akan bertemu dengan sepasang orang muda perkasa ini dalam cerita serial Harta Karun Jenghis Khan, dimana Pendekar Sadis dan Lam-sin yang kini hanyalah seorang pemuda perkasa bernama Ceng Thian Sin dan seorang gadis yang gagah bernama Toan Kim Hong, sambil bergandeng tangan bahu membahu menghadapi dan bersama-sama memecahkan persoalan-persoalan yang rumit-rumit penuh bahaya.

Petualangan mereka akan dapat anda ikuti dalam serial Harta Karun Jenghis Khan. Nah, sampai jumpa di lain karangan!

- T A M A T –
Pendekar Sadis