*

*

Ads

Rabu, 26 April 2017

Pendekar Sadis Jilid 010

Mereka ini juga naik kuda di samping sang perwira, yang seorang bertubuh kurus sekali akan tetapi memiliki sepasang mata yang tajam dan dia memegang sebatang tongkat, pakaiannya penuh tambalan seperti lajimnya pakaian tokoh pengemis di dunia kang-ouw. Memang kakek kurus ini adalah Lo-thian Sin-kai, seorang tokoh besar dari Hwa-i Kai-pang, sebuah perkumpulan pengemis yang besar dan berpengaruh di kota raja.

Orang ke dua adalahseorang tokoh Hwa-i Kai-pang pula yang bernama Hek-bin Mo-kai, bermuka hitam sekali akan tetapi leher dan kedua tangannya berkulit putih. Lo-thian Sin-kai berusia enam puluh tahun lebih sedangkan Hek-bin Mo-kai kurang lebih sepuluh tahun lebih muda dari suhengnya.

Hwa-i Kai-pang dahulunya adalah sebuah perkumpulan yang pernah menentang pemerintah. Akan tetapi semenjak Pangeran Hung Chih menggantikan kedudukan Kaisar Ceng Hwa, pangeran yang telah menjadi kaisar ini lebih cerdik daripada Kaisar Ceng Hwa, maka kaisar baru ini mendekati Hwa-i Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Baju Kembang) sehingga kini tenaga tokoh-tokohnya yang berilmu tinggi dapat dipergunakan.

Melihat pasukan yang terdiri dari seratus orang lebih itu, dan masih dibantu oleh dua orang pengemis tua yang melihat pakaiannya saja sudah dikenal oleh Ceng Han Houw sebagai tokoh Hwa-i Kai-pang, maka pangeran dan isterinya itu diam-diam terkejut sungguhpun mereka tidak menjadi gentar dan bahkan merasa marah sekali melihat
betapa kaisar telah mempergunakan pula orang-orang kang-ouw.

Sebelum mereka sempat bertanya jawab, tiba-tiba terdengar suara gemuruh dan dari pintu gerbang sebelah barat nampak debu mengepul disusul masuknya puluhan orang perajurit dari Raja Agahai yang berjalan kaki dan kurang lebih lima puluh orang perajurit itu merupakan perajurit-perajurit pilihan yang bertubuh besar dan berwajah menyeramkan, semua memegang sebatang tombak panjang, dan dipimpin oleh seorang perwira tinggi besar bermuka penuh brewok.

Akan tetapi yang menarik perhatian Han Houw adalah seorang kakek yang berjalan dekat perwira pasukan itu, seorang yang berjubah kuning, tinggi kurus bermuka pucat dan bermata sipit. Dia mengenal kakek ini yang bukan lain adalah Tok-ciang Sian-jin Ciu Hek Lam, seorang tokoh perkumpulan Jeng-hwa-pang yang mendendam kepadanya karena dia pernah membasmi Jeng-hwa-pang bahkan membunuh ketuanya.

Mengertilah dia kini bahwa kakek ini tentu datang untuk membalas dendam, setelah gagal menyuruh tujuh orang tokoh Jeng-hwa-pang yang membentuk barisan perisai dan golok yang menyerangnya malam tadi. Kini semakin yakinlah dia akan tepatnya dugaannya. Melihat munculnya dua pasukan secara berbareng, dari pintu gerbang timur dan barat ini, dia tahu bahwa memang sudah ada kerja sama antara Raja Agahai dan pasukan kaisar, dan jelaslah bahwa tentu pamannya itu sendiri yang berkhianat.

"Kalian ini pasukan-pasukan dari Raja Agahai dan pasukan-pasukan dari Kaisar Kerajaan Beng, ada maksud apakah datang mengunjungi dusun ini?" Terdengar suara Ceng Han Houw membentak lantang.

Suara pangeran ini masih mengandung wibawa karena baik fihak tentara Beng maupun tentara Raja Agahai sudah mengenal belaka siapa adanya pangeran ini yang disohorkan sebagai orang yang berilmu tinggi, bahkan yang kabarnya adalah jago nomor satu yang tak terkalahkan di dunia ini!

Menurut kabar, satu-satunya orang yang mampu mengalahkannya hanyalah
Pendekar Lembah Naga, yaitu adik angkat Pangeran itu sendiri. Maka, tentu saja di dalam hati mereka merasa gentar juga, apalagi karena mereka mendengar bahwa isteri pangeran yang cantik itu pun lihai bukan main.






Akan tetapi, Lo-thian Sin-kai dan Hek-bin Mo-kai, juga Tok-ciang Sian-jin Ci Hek Lam, yang merasa dendam kepada pangeran itu, kini melangkah maju dengan sikap mengancam.

"Ceng Han Houw, engkau pemberontak hina, menyerahlah atau terpaksa kami akan membunuhmu!" kata Lo-thian Sin-kai dengan garang sambil menggerakkan tongkatnya di depan dada.

"Ceng Han Houw, pemberontak dan pembunuh kejam! Hutang lama belum kau bayar, sekarang engkau telah menambah hutang tujuh nyawa anak buah kami lagi! Hanya kematianlah yang akan membayar lunas hutang itu!"

Kata Tok-ciang Sian-jin sambil meloloskan senjatanya berupa sebatang cambuk baja hitam yang panjang dan melingkar-lingkar.

Cambuk itu terbuat dari baja murni dan panjangnya tidak kurang dari dua tombak, merupakan senjata yang amat ampuh dari tokoh Jeng-hwa-pang ini apalagi karena senjata itu mengandung racun jahat sekali sehingga terkena lecutan sekali saja, kulit akan pecah, tulang remuk dan darah menjadi terkena racun yang sukar disembuhkan. Sungguh merupakan senjata yang amat keji.

Memang, Jeng-hwa-pang terkenal sebagai tempat tokoh-tokoh yang ahli dalam penggunaan racun, terutama sekali racun Jeng-hwa (Bunga Hijau) yang sukar diobati dan kabarnya obat pelawan racun Jeng-hwa hanya dimiliki oleh orang-orang Jeng-hwa-pang saja.

Ceng Han Houw memandang kepada tiga orang itu sambil tersenyum mengejek.
"Hemm, kalian bukan datang sebagai tokoh-tokoh kang-ouw yang hendak mengadu ilmu denganku, melainkan sebagai anjing-anjing penjilat dan tukang-tukang pukul bayaran yang hina. Siapa sudi menyerah kepada anjing-anjing macam kalian? Kalau memang ada kepandaian dan berani, kalian majulah!"

Mendengar tantangan ini, Tok-ciang Sian-jin Ciu Hek Lam menjadi marah dan dia mengeluarkan teriakan nyaring Lalu menerjang ke depan, memutar cambuknya dan terdengar suara meledak-ledak ketika ujung cambuk itu mematuk ke arah ke dua mata Ceng Han Houw dengan cepat sekali!

Namun, biarpun Ceng Han Houw sudah kehilangan banyak tenaga sin-kangnya, ilmu kepandaiannya masih lengkap dan dia mengenal kedahsyatan serangan ini. Dengan sedikit merendahkan tubuhnya, dia sudah mampu mengelak sambaran cambuk. Cambuk itu membalik seolah-olah hidup ketika tidak mengenai sasaran dan kini ujungnya meluncur dan menotok ke arah ubun-ubun kepala lawan. Hal inipun sudah diduga oleh Han Houw, maka diapun sudah mencabut pedangnya dan menangkis.

"Tringgg...!" Terdengar suara nyaring ketika pedang bertemu ujung cambuk dan nampak api berhamburan.

Sinar api ini seolah-olah menjadi isyarat bagi mereka semua, karena dengan suara gemuruh, para anggauta pasukan sudah menyerang, didahului oleh Lo-thian Sin-kai dan Hek-bin Mo-kai, dua orang tokoh dari Hwa-i Kai-pang itu yang telah menerjang Lie Ciauw Si.

Nyonya muda ini sudah mencabut Pek-kang-kiam dan nampak sinar putih
bergulung-gulung ketika dia memutar pedang, menangkis dua batang tongkat dari dua orang kakek tokoh Hwa-I Kai-pang itu dan sekaligus membalas dengan dua kali tusukan yang berkelebat seperti kilat menyambar.

Dua orang kakek itu cepat memutar tongkat menangkis dan mereka lalu mainkan Ilmu Tongkat Ngo-lian Pang-hoat (Ilmu Tongkat Lima Teratai) yang menjadi andalan para tokoh Kai-pang.

Akan tetapi, dengan gagah Ciauw Si lalu menghadapi mereka dan mainkan Ilmu Silat Siang-bhok Kiam-sut yang menjadi ilmu kebanggaan Cin-ling-pai, semacam ilmu pedang yang amat indah dipandang akan tetapi mengandung gerakan-gerakan yang amat berbahaya bagi lawan.

Seperti namanya, Siang-bhok Kiam (Pedang Kayu Harum) sebetulnya merupakan ilmu pedang yang dimainkan dengan pedang kayu, merupakan ilmu tunggal yang hebat dari pendiri Cin-ling-pai, yaitu mendiang pendekar sakti Cia Keng Hong, kakek dari Lie Ciauw Si. Dengan pedang kayunya yang berbau harum, terbuat dari semacam kayu cendana yang aneh, ketua Cin-ling-pai membuat nama besar dan dikenal di seluruh dunia kang-ouw.

Kini, cucu perempuannya mengamuk dengan ilmu Siang-bhok Kiam-sut, biarpun tidak selihai kakeknya yang berpedang kayu, namun ilmu pedang ini membuat dua orang tokoh Hwa-i Kai-pang menjadi terkejut dan seketika terdesak mundur. Akan tetapi, pasukan yang berada di belakang mereka lalu maju mengepung, bersama pasukan Raja Agahai yang juga sudah maju mengeroyok.

Suami isteri itu lalu dikeroyok oleh hampir seratus orang dan pertempuran yang sesungguhnya berat sebelah, akan tetapi juga mengerikan melihat betapa suami istri itu mengamuk seperti sepasang naga sakti. Ke manapun pedang mereka berkelebat, robohlah seorang pengeroyok dan sebentar saja pekarangan di depan pondok itu telah banjir darah dan mayat-mayat berserakan.

Suara orang-orang mengeluh dan merintih karena luka parah memenuhi tempat itu dan sepasang suami isteri itu sendiripun tidak terluput dari luka-luka yang terdapat pada hampir seluruh tubuh mereka. Akan tetapi berkat permainan pedang mereka, mereka masih dapat bertahan terus dan hanya menderita luka-luka ringan saja.

Andaikata Han Houw masih memiliki sepenuh tenaga sin-kangnya, kiranya kalau hanya dikeroyok hampir dua ratus orang pasukan itu, dia dan isterinya akan dapat menghadapi mereka dan mungkin akan dapat membasmi habis mereka!

Akan tetapi sayang baginya, tenaga sin-kangnya sudah banyak hilang ketika dia sembuh dari sakit akibat luka dalam yang amat parah sehingga kini tenaganya sudah tinggal sedikit. Biarpun ilmu silatnya masih lihai, akan tetapi karena tenaga sin-kangnya lemah hal ini tentu saja mengakibatkan gerakannya kurang cepat dan kurang mantap sehingga tingkatnya kini bahkan masih di bawah tingkat Ciauw Si.

Tok-ciang Sian-jin Ciu Hek Lam adalah seorang tokoh Jeng-hwa-pang yang amat tinggi ilmunya, bahkan dibanding dengan Ciauw Si dia masih menang setingkat! Biarpun demikian, kalau dia bertanding melawan Han Houw sebelum pangeran ini menderita luka, kiranya dia takkan mampu bertahan sampai lebih dari lima puluh jurus saja!

Kini, biarpun dia dibantu oleh pasukan, namun pertahanan Han Houw dengan ilmu silatnya yang aneh sedemikian rapatnya sehingga sekian lamanya belum juga dia mampu merobohkan pangeran ini biarpun tubuh pangeran itu sudah menderita banyak luka oleh pengeroyokan itu dan sudah hampir dua puluh orang roboh oleh pedang pangeran ini!

Di lain fihak, Ciauw Si juga mengamuk, bahkan lebih ganas daripada suaminya. Dia sudah merobohkan tiga puluh orang lebih dan masih terus mengamuk. Akan tetapi, gerakannya makin menjadi lemah karena dia sudah menderita banyak luka seperti suaminya dan sudah terlalu banyak mengeluarkan darah. Ketika dia menengok dan melihat keadaan suaminya tidak lebih baik dari padanya, Ciauw Si mengeluh.

"Suamiku, jangan kau tinggalkan aku...!" dia berseru lirih dan seruannya ini terdengar oleh Han Houw yang cepat memutar pedangnya membuka jalan darah untuk dapat mendekati isterinya.

Ciauw Si tahu akan usaha suaminya ini maka dia pun memutar pedang dengan kuat dan berhasillah suami isteri itu kini menghadapi musuh sambil beradu punggung, saling menjaga, dan memutar pedang di depan untuk menghalau hujan senjata dari depan, kanan kiri dan atas.

Suami isteri itu terus melawan dengan penuh semangat, sungguhpun keduanya sudah tahu dengan pasti bahwa mereka tidak akan dapat lolos dan pasti akan roboh, namun mereka tidak mau menyerah sama sekali dan ingin melawan sampai akhir.

"Ciauw Si... isteriku..."

Han Houw merintih ketika pundaknya untuk kesekian kalinya tertusuk tombak lawan, dia membabat dan seorang perajurit yang menusuknya itu roboh.

"Pangeran... suamiku..."

Ciauw Si juga merintih dan kembali pahanya kena disambar tongkat sehingga rasanya seperti patah tulangnya.

Dia menusuk ke depan, dan ketika tongkat tokoh Hwa-i Kai-pang itu menangkis, dia
membalik dan robohlah seorang pengeroyok di sebelah kirinya, akan tetapi dia terguling karena kakinya yang kiri tidak dapat dipakai berdiri lagi.

"Si-moi...!"

Han Houw berseru dan dengan tangan kiri dia merangkul isterinya, tangan kanannya masih diputarnya untuk melindungi mereka berdua.

Ciauw Si menguatkan dirinya, dan dia pun menggerakkan pedangnya untuk menangkis ke kanan kiri dan ke atas. Hebat bukan main pertahanan dua orang suami isteri itu, akan tetapi fihak musuh terlampau banyak dan luka-luka mereka dari pundak sampai ke kaki itu terus mengucurkan darah segar dan membuat mereka merasa lemas sekali.

Kini mereka berdua tidak lagi dapat membalas serangan, tidak lagi dapat merobohkan lawan, hanya mampu menangkis terus menerus. Akan tetapi tentu saja tenaga mereka makin lama makin lemah dan habis sehingga tangkisan-tangkisan mereka tidak begitu kuat lagi dan mulailah mereka menerima bacokan atau tusukan senjata tajam dan terpukul oleh tongkat beberapa kali.

Akhirnya, Ceng Han Houw dan Lie Ciauw Si tidak mampu mempertahankan diri lagi. Wajah mereka pucat sekali karena darah mereka hampir habis bercucuran dari luka-luka mereka dan akhirnya robohlah mereka saling rangkul, dengan pedang masih tergenggam di tangan dan nyawa sudah melayang sebelum banyak senjata datang bagaikan hujan, karena mereka telah kehabisan darah! Suami isteri yang luar biasa ini benar-benar telah melawan sampai titik darah terakhir.

Pendekar Sadis