*

*

Ads

Rabu, 21 Agustus 2013

Ang Hong Cu Jilid 042m

***Kembali***

"Bodoh! Dia itu Han Lojin!"

"Siapa Han Lojin?"

Ahh, kini mengertilah Kui Hong. Gadis tolol ini belum tahu bahwa ia telah menjadi tawanan ayah kandungnya sendiri

"Han Lojin adalah Tang Bun An!"

"Tang Bun An? Siapa pula…….. "

"Penawanmu itu adalah Ho-han Pang-cu, juga Han Lojin, alias Tang Bun An, alias Ang-hong-cu pula!"

"Ahhhh……….. !" Sepasang mata itu terbelalak. "Dia….. dia…… Ang-hong-cu…….? Aku tidak percaya!"

"Itulah ketololanmu! Ketua Ho-han-pang itu adalah Ang¬hong-cu dan hal ini aku tahu benar!"

"Tapi…….. tapi…….. kalau benar dia Ang-hong-cu, berarti dia itu ayah kadungku? Akan tetapi kenapa dia……. dia menawanku? Pantas saja dia mengenal nama ibu dan suboku…….! Ah, akan tetapi mungkinkah itu? Kenapa dia menawanku dan sikapnya seperti itu?” Ia teringat akan sikap cabul ketua Ho-han-pang itu.

"Apakah engkau belum pernah melihat ayahmu?"

"Sejak lahir belum pernah aku melihatnya."

"Dan kakakmu itu, Hay Hay, apakah dia pernah bercerita tentang jahatnya Ang-hong- cu?"

"Hanya sedikit……. ah, enci yang baik, ceritakan kepadaku bagaimana sesungguhnya semua itu, tentang Han Lojin, tentang Tang Bun An, tentang Ang-hong-cu! Aku sungguh bingung sekali. Aku datang ke sini bersama kakakku menyelidiki perwira she Tang, dan aku dipancing ke sini, dikeroyok dan ditangkap, katanya untuk memancing agar kakakku datang pula ke sini. Tidak tahunya engkau yang muncul! Apa artinya semua ini, enci? Katakanlah. Engkau tidak ragu lagi dan percaya kepadaku, bukan?"

Kedua mata Mayang menjadi basah karena ia merasa tegang dan penasaran sekali, mendengar bahwa laki-laki setengah tua yang cabul dan menawannya itu adalah ayah kandungnya sendiri.

Biarpun masih muda, Kui Hong sudah berpengalaman dan iapun dapat membedakan sikap orang yang berbohong atau tidak. Ia tahu bahwa Mayang tidak berbohong dan ia percaya kepada gadis Tibet itu yang ia tahu tentu puteri seorang wanita Tibet yang menjadi korban keganasan Ang-hong-cu pula, seperti ibu Hay Hay. Maka, tanpa ragu-ragu lagi iapun membebaskan totokannya dan Mayang dapat menggerakkan kaki tangannya. Gadis Tibet itu bangkit duduk, mengurut-urut kaki tangannya sambil memandang kepada Kui Hong.

"Enci, engkau mengenal kakakku?"

"Tang Hay?Tentusaja aku mengenalnya."

"Enci, siapakah namamu? Dan bagaimana engkau sampai tertawan oleh mereka? Dan ceritakanlah tentang semua ini…..”

"Nanti dulu, Mayang. Namamu Mayang, bukan? Nah, adik Mayang, sebelum aku bercerita, lebih baik engkau lebih dulu menceritakan pengalamanmu bersama Hay Hay, agar aku dapat mengerti duduknya perkara dan dapat menentukan langkah selanjutnya. Kita berada dalam kekuasaan persekutuan yang amat berbahaya dan kuat, adik Mayang. Nah, kau ceritakan semuanya, juga hal yang mengherankan bahwa engkau tidak tahu akan kenyataan bahwa ketua Ho¬han-pang adalah Han Lojin atau Tang Bun An atau Ang-hong¬cu, yaitu ayah kandungmu sendiri!"

Rasa kaku pada kaki tangan Mayang sudah lenyap setelah ia mengurutnya, dan kini mereka duduk di tepi pembaringan, saling berhadapan.

"Baiklah, enci. Memang sudah sepatutnya kalau engkau curiga dan berhati-hati, dan maafkan semua kelancanganku tadi. Aku bertemu dengan kakakku Tang Hay ketika dia berada di Tibet bersama pendekar Pek Han Siong. Kenalkah engkau kepada pendekar itu?"

Kui Hong mengangguk. Ia mengenal Pek Han Siong dan ada persamaan antara Hay Hay dan Han Siong. Keduanya memiliki ilmu kepandaian tinggi, bahkan keduanya juga memiliki ilmu sihir yang hebat.

"Lanjutkan ceritamu." katanya.

"Setelah kami saling berjumpa, secara kebetulan kami saling melihat mainan yang tergantung di leher kami dan tahulah kami bahwa kami adalah kakak beradik. Ayah kami adalah Ang-hong-cu." Mayang tidak mau menceritakan bahwa ia telah dinikahkan dengan Hay Hay, karena hal itu merupakan rahasia pribadinya, merupakan hal yang dapat mendatangkan aib. Menikah dengan kakak sendiri!

"Dan ibumu?"

"Ibuku bernama Souli, seorang wanita Tibet yang pernah tergila-gila kepada pria yang oleh ibu disebut Tang Tai-hiap. Akan tetapi ketika ibuku mengandung, Tang Tai-hiap itu meninggalkannya dan tidak pernah kembali, hanya meninggalkan benda ini kepada ibu."

"Hemm, memang itulah sifat khas Ang-hong-cu." kata Kui Hong, gemas.

"Setelah mendengar dari kakakku, Tang Hay tentang ayah kandungku, aku lalu ikut Hay-ko untuk mencari ayah, mencari Ang-hong-cu, bukan untuk berbaik-baik antara anak dan ayahnya, melainkan untuk minta pertanggungan jawab Ang¬hong-cu yang menurut Hay-ko telah melakukan banyak kejahatan. Nah, kami berdua pergi ke kota raja karena Hay-ko bilang bahwa dia mendengar di kota raja terdapat seorang perwira she Tang yang mengaku sebagai putera Ang-hong-cu. Dan selagi kami melakukan penyelidikan, kami mendengar bahwa yang ada seorang perwira she Tang yang sudah setengah tua, bukan perwira Tang muda. Ketika pagi kemarin Hay-koko pergi melakukan penyelidikan, ada orang datang mengabarkan bahwa Hay-ko memanggilku. Aku dipancing dan dijebak, dan aku dikeroyok sehingga akhirnya aku tertawan. Ternyata Ho-han-pang memiliki banyak orang pandai, terutama dua orang pemuda yang menawanku itu."

Kui Hong mengangguk-angguk. Ia sudah tahu dan iapun tahu bahwa mereka dalah Sim Ki Liong dan Tang Cun Sek, juga ada Ji Sun Bi. Bahkan baru sekarang diketahuinya pula hal yang mengejutkan hatinya, yaitu bahwa Tang Cun Sek adalah putera Ang-hong-cu pula! Dan putera Ang-hong-cu yang satu ini sudah menyelundup ke Cin-ling-pai, mempelajari ilmu-ilmu Cin-ling-pai, bahkan melarikan pedang pusaka Hong¬cu-kiam dari Cin-ling-pai. Kini, ia tersentak kaget, teringat betapa ketika mengeroyoknya, Tang Cun Sek tidak memegang Hong-cu-kiam, dan Sim Ki Liong juga tidak memegang Gin¬hwa-kiam! Apakah hal itu sengaja mereka lakukan karena mereka menyamar dengan memakai kedok tipis, tidak mengeluarkan pedang-pedang pusaka itu agar ia tidak mengenal mereka ?

"Lanjutkan ceritamu, Mayang."

"Aku ditawan di sini dan aku tantang Ho-han Pang-cu di kamar ini. Ia membebaskanku dan kami berkelahi. Akan tetapi diapun amat lihai, dia berhasil merobek bajuku dan dia melihat benda mainan ini!"

"Hemm, jadi dia tahu pula bahwa engkau puterinya?"

“Agaknya demikianlah biar dia tidak membuat pengakuan. Buktinya, dia mengenal nama ibuku, Souli, dan dia mengenal pula suboku."

"Siapa subomu?"

"Kim-mo Sian-kouw."

"Hemm, lalu apa yang dilakukan terhadap dirimu?"

"Dia tidak mengaku siapa dirinya, hanya mengatakan bahwa aku ditahan di sini dan baru akan dibebaskan kalau Hay-ko mau menyerah dan mau membantu Ho-han-pang. Akupun menanti saja di sini, diberi makan minum dan semua keperluan dicukupi, bahkan pakaian lengkap tersedia di sini, tidak pernah diganggu. Akan tetapi hatiku selalu khawatir akan nasib Hay-ko, sampai engkau masuk tadi, enci. Sekarang, setelah mengetahui bahwa engkau juga musuh mereka, dan engkau agaknya lihai, hatiku lebih tenang. Kita dapat bekerja sama melawan mereka, enci!"

Hati Kui Hong juga merasa lega. Gadis ini tentu memiliki ilmu kepandaian yang cukup baik, kalau tidak demikian, tidak nanti Hay Hay mengajaknya mencari Ang-hong-cu. Ia sendiri belum pernah mendengar nama gadis ini dan ibunya, akan tetapi nama guru gadis ini, Kim-mo Sian-kouw, pernah didengarnya. Neneknya pernah bercerita bahwa di daerah Tibet selain terdapat banyak pendeta Lama yang sakti, juga terdapat seorang tokoh wanita yang memiliki ilmu kepandaian tinggi dan berjuluk Kim-mo Sian-kouw.

"Tentu saja, adikku. Ketahuilah, namaku Cia Kui Hong…..”

"Wah, kiranya engkau ini enci Kui Hong!" Mayang berseru dengan gembira sekali.

Kui Hong memandang kepadanya dengan alis berkerut. "Engkau telah mengetahui namaku?"

"Tentu saja! Engkau adalah sahabat terbaik dari kakakku, bagaimana aku tidak tahu? Hay-ko banyak bercerita tentang dirimu, katanya bahwa engkaulah sahabatnya paling dikaguminya dan yang paling baik."

"Ah? Dia berkata demikian?" Wajah Kui Hong seketika berubah merah sekali sampai ke leher dan telinganya dan hal ini tidak dilewatkan pandang mata Mayang. "Apa lagi yang dikatakannya tentang diriku?"

Mayang mengingat-ingat. Memang atas pertanyaan dan desakannya. Hay Hay banyak bercerita tentang pengalamannya yang lalu dan tentang para pendekar wanita yang pernah ditemuinya, bahkan yang pernah bekerja sama dengannya dalam menghadapi tokoh-tokoh sesat.

"Dia bilang bahwa enci merupakan seorang pendekar wanita yang cantik jelita dan manis budi, juga berkepandaian tinggi sekali….. "

“Ihh! Engkau perayu seperti kakakmu!" kata Kui Hong tertawa.

"Tidak, enci. Dia bukan memuji kosong sebagai rayuan. Memang engkau cantik jelita dan manis budi, dan tentu kepandaianmu tinggi sekali…. "

"Sudah, cukuplah. Lanjutkan ceritamu, adik Mayang." kata Kui Hong, akan tetapi bibirnya tersenyum manis dan hatinya terasa girang bukan main. Hay Hay masih ingat kepadanya! Bukan hanya ingat, akan tetapi bahkan memuji-mujinya!

"Hay-ko mengatakan bahwa engkau adalah puteri ketua Cin-ling-pai yang terkenal sebagai perkumpulan para pendekar yang gagah perkasa, juga engkau cucu Pendekar Sadis yang namanya menggemparkan dunia persilatan!"

"Cukup tentang diriku. Ceritakan bagaimana engkau sampai terjebak di sini dan kakakmu itu belum juga datang menolongmu."

Wajah Mayang nampak berduka. "Entahlah, enci Hong. Aku tidak tahu di mana adanya kakakku, akan tetapi aku khawatir sekali kalau sampai diapun terperangkap oleh jahanam…… "

“Dia ayah kandungmu!"

"Tidak perduli! Dia jahat! Dia telah meninggalkan ibu ketika ibu mengandung, membuat ibu menderita hebat. Dan sekarang, dia malah menawanku, menghinaku! Enci Hong, engkau yang seharusnya melanjutkan ceritamu tadi, tentang Ang-hong-cu, tentang kedatanganmu ke sini, tentang segalanya!"

Kui Hong teringat dan tersenyum. Ceritanya terhenti karena ia tenggelam ke dalam kegembiraan mendengar Hay Hay memuji-mujinya dan masih ingat kepadanya.

"Aku mengenal Han Lojin sebagai Ang-hong-cu beberapa waktu yang lalu ketika para pendekar membantu pemerintah membasmi pemberontakan yang dipimpin oleh Lam-hai Giam¬lo. Han Lojin muncul dan diapun membantu pemerintah. Di sanalah dia melakukan perbuatan-pebuatan jahat, memperkosa beberapa orang wanita dan di sana terdapat pula kakakmu Hay Hay. Ketika itulah kakakmu juga aku dan yang lain-lainnya, mengetahui bahwa Han Lojin adalah Ang-hong¬cu, akan tetapi dia melarikan diri. Ketika aku tiba di kota raja, kebetulan aku bertemu dengan Tang Bun An yang menjadi perwira di istana dan aku mengetahui rahasianya, bahkan dialah Han Lojin dan juga Ang-hong-cu. Akan tetapi dengan licik dia menjebakku sehingga aku tertawan olehnya. Dan di situ aku melakukan suatu kebodohan yang membuat aku mneyesal bukan main. Aku telah berjanji takkan memusuhinya dan takkan membuka rahasianya.dan sebagai imbalannya, dia membebaskan aku. Padahal, sesungguhnya dia takut kepadaku, takut kepada Cin-ling-pai, takut pula kepada kakekku Pendekar Sadis. Setelah aku bebas, aku merasa menyesal sekali, merasa bahwa aku telah menjadi pelindungnya, menjadi sekutunya. Karena itu, aku lalu datang menantangnya dan maklum bahwa dia tentu akan menggunakan anak buahnya untuk mengeroyokku. Nah, aku dikeroyok dan ditawan, lalu dimasukkan ke sini."

Mayang memandang heran. "Enci Hong! Engkau sudah bebas dan engkau sengaja membiarkan dirimu ditangkap dan terancam maut?"

Kui Hong tersenyum, mengangguk. "Bukan hanya ancaman maut, malah lebih mengerikan lagi. Mungkin aku disiksa, dihina, lalu dibunuh. Akan tetapi, bagiku, lebih baik mati dalam menentang kejahatan daripada hidup menjadi sekutu orang jahat!"

"Hebat! Engkau hebat, enci Hong. Memang pantas sekali kalau kakakku kagum kepadamu. Engkau seorang pendekar wanita yang hebat! Akan tetapi jangan khawatir, enci. Kita kini bersatu. Kita berdua dapat melawan mereka! Dan masih ada kakakku. Dia pasti akan menolong kita, dan dia mempunyai sebuah hadiah untukmu. Hal itu dia katakan sendiri kepadaku."

"Hadiah? Untukku? Hadiah apakah itu, Mayang?"

"Sebatang pedang pusaka, enci."

"Pedang pusaka? Aku sudah memiliki Hok-mo Siang¬kiam…… ah, si keparat itu telah menyitanya!" katanya dengan wajah menyesal sekali.

"Jangan khawatir, enci. Pedang pusaka itu hebat, aku sudah melihatnya, dan kata Hay-ko, pedang itu memang milikmu, milik Cin-ling-pai. Namanya Hong-cu-kiam."

"Hong-cu-kiam?"

Sepasang mata yang tajam itu terbelalak. Pedang pusaka itu dilarikan Tang Cun Sek dan kini telah berada di tangan Hay Hay? Pantas saja Cun Sek tidak mempergunakan pedang pusaka itu. Dan bagaimana dengan Gin-hwa-kiam yang tadinya dilarikan Ki Liong?

"Ah, memang benar itu pusaka Cin-ling-pai yang dilarikan orang. Dan…… barangkali engkau tahu tentang pedang pusaka Gin-hwa¬kiam?”

"Gin-hwa-kiam? Bukankah itu pedang pusaka yang kulihat dipergunakan oleh pendekar Pek Han Siong?"

"Sudah berada di tangan Pek Han Siong? Bagus!" Kui Hong girang bukan main. Kiranya Hay Hay dan Han Siong sudah dapat merampas kembali kedua pedang pusaka itu! "Gin-hwa¬kiam adalah pedang Pulau Teratai Merah yang dilarikan orang pula. Aih, adikku, engkau menceritakan berita yang amat menggembirakan. Sekarang, mari kita periksa tempat ini, kalau-kalau ada jalan untuk melarikan diri dari sini."

"Coba periksalah, enci. Aku sudah lelah memeriksa, namun tidak dapat menemukan jalan keluar. Ruangan ini adalah ruangan di bawah tanah dan jalan satu-satunya adalah pintu itu. Terbuat dari besi yang tebal dan kokoh kuat. Membukanyapun dengan alat rahasia. Dan lubang angin dan sinar di atas itu, selain terlalu tinggi, juga diberi terali besi yang kokoh pula."

Akan tetapi Kui Hong merasa tidak puas kalau tidak memeriksa sendiri. Ia lalu mengadakan pemeriksaan dengan amat teliti. Namun, ternyata benar seperti yang dikatakan Mayang tadi. Tempat itu amat rapat dan tidak ada jalan keluar kecuali melalui pintu yang amat kokoh itu. Satu-satunya jalan hanyalah menunggu sampai ada yang membuka pintu itu lalu menerjang keluar!

Karena itu, ketika ada yang mendorongkan makanan dan minuman melalui lubang di bagian bawah pintu, dua orang gadis itupun makan minum dengan cukup untuk membuat tubuh mereka tetap kuat. Tadinya Kui Hong yang mengenal kecurangan lawan, merasa ragu untuk makan dan minum. Ia tidak takut menghadapi racun karena ia dapat mengetahui kalau makanan atau minuman itu diracun, akan tetapi yang dikhawatirkan adalah kalau ada kekuatan sihir terkandung dalam makanan dan minuman itu yang akan menundukkan mereka. Ketika ia menyatakan hal ini, Mayang tersenyum.

"Kalau terhadap serangan sihir, jangan takut, enci. Aku telah melatih diri secara khusus untuk menolak segala kekuatan sihir ."

"Eh! Engkau pandai sihir seperti Hay Hay dan Han Siong?" Kui Hong memandang gadis Tibet itu.

Mayang tersenyum. Bukan main manisnya gadis Tibet itu ketika tersenyum. Mulutnya yang kecil itu mekar bagaikan setangkai bunga merekah merah. Ia tidak menutupi keindahan itu dengan tangannya seperti biasanya gadis Han yang sopan-sopan, dan Kui Hong memandang kagum. Ada persamaan memang antara Mayang dengan Hay Hay. Mungkin dalam bentuk mulut dan hidungnya itulah, dan kecerahan wajah itu kalau tersenyum.

"Tidak, enci. Akan tetapi, biar Hay-ko sendiripun tidak akan mampu menguasai aku dengan kekuatan sihirnya! Subo telah mengajarkan aku latihan untuk memperoleh kekuatan batin yang menolak segala macam kekuatan sihir yang bagaimana kuatpun. Oleh karena itu, jangan mampu menolaknya."

Kui Hong memandang kagum. Mereka lalu makan minum dengan gembira, dan lupalah Kui Hong bahwa ia sedang berada dalam tahanan musuh, bukan dalam kamar hotel mewah bersenang-senang dengan seorang sahabat yang menyenangkan sekali. Setelah makan dan beristirahat sejenak, Kui Hong lalu bangkit.

"Adik Mayang, sekarang bersiaplah. Kita mengadu kepandaian silat. Kamar ini cukup lebar sehingga leluasa bagi kita untuk bertanding silat di sini."

"Ehhh?" Mayang memandang wajah Kui Hong dengan kaget, akan tetapi melihat wajah yang cantik itu cerah dan mulutnya tersenyum. Mayang segera mengerti.

"Maksudmu, kita berlatih silat, enci Hong?'

Kui Hong mengangguk. "Kita harus selalu siap, dan kita perlu berlatih, terutama untuk mengenal kepandaian masing-masing sehingga mudah bagi kita menentukan langkah selanjutnya. Jangan sungkan dan jangan main-main, adikku. Seranglah aku dan keluarkan kepandaianmu agar aku dapat menilai sampai di mana tingkatmu."

"Baik, enci Hong, akan tetapi jangan mentertawakan aku!"

"Aih, engkau terlalu merendahkan dirimu, Mayang. Aku pernah mendengar nama besar subomu, maka aku tahu bahwa engkau tentu memiliki ilmu silat yang hebat. Nah, mari kita main-main sebentar!"

"Baik, enci Hong. Kau jaga baik-baik seranganku!" Setelah melihat bahwa Kui Hong sudah memasang kuda-kuda, Mayang lalu mulai menyerang. Karena iapun dapat menduga akan kelihaian Kui Hong, maka begitu menyerang, ia mainkan ilmu silat Kim-lian-kun (Ilmu Silat Teratai Emas) yang ampuh, yaitu ilmu silat andalan dari Kim-mo Sian-kouw. Gerakannya amat cepat dan mengandung tenaga yang dahsyat sehingga dari tangannya mengeluarkan angin berdesir.

"Bagus!" Kui Hong berseru sambil mengelak dan membalas serangan Mayang. Iapun tidak main-main karena dari gerakan pertama itu saja tahulah ia bahwa Mayang sungguh lihai dan sama sekali tidak boleh dipandang ringan. Kui Hong telah mempelajari banyak macam ilmu silat, namun belum pernah ia melihat ilmu silat seperti yang dimainkan Mayang, maka iapun bersikap hati-hati sekali.

Serang menyerang terjadi di dalam kamar yang luas itu, dan terdengar angin berkesiur setiap kali mereka menggerakkan tangan. Dan kalau sesekali terjadi adu lengan, keduanya tergetar dan, mundur dua langkah, saling pandang dengan kagum. Makin lama, serangan Mayang semakin hebat dan Kui Hong kagum bukan main. Ilmu silat gadis Tibet itu memang tangguh sekali. Terpaksa ia harus mengerahkan ilmu gin-kang (meringankan tubuh) Bu-eng Hui-teng (Terbang Tanpa Bayangan) yang dipelajarinya dari Ceng Sui Cin, ibunya. Dengan ilmu ini, tubuhnya bagaikan kapas saja dan Mayang terkejut dan kagum bukan main. Lawannya itu seolah-olah dapat terbang dan tak pernah dapat disentuh tangannya yang menyerang.

Kui Hong menilai ilmu yang dimiliki Mayang, juga kekuatan kedua tangannya. Harus diakuinya bahwa tingkat kepandaian Mayang sudah cukup tinggi, tidak kalah dibandingkan para pendekar wanita lainnya. Ia sendiri, kalau tidak mendapatkan gemblengan dari kakeknya dan neneknya di Pulau Teratai Merah, tentu akan mengalami kesulitan untuk dapat mengalahkan Mayang!

Sampai lima puluh jurus lebih mereka berlatih dan kalau Kui Hong menghendaki, biarpun tidak sangat mudah, ia akan mampu mengalahkan Mayang. Bagaimanapun lihainya gadis Tibet itu, Kui Hong masih menang tingkat, menang cepat dan lebih kuat tenaganya. Akan tetapi Kui Hong tidak mau mengecilkan hati Mayang, dan ia sudah merasa cukup puas melihat kenyataan bahwa Mayang memang lihai dan dapat diandalkan untuk menjadi kawan dalam menghadapi Ang-hong-cu dan anak buahnya.

"Cukup, Mayang!" katanya sambil melompat ke belakang. "Engkau lihai sekali!"

"Ihh, enci Kui Hong, jangan memuji! Kalau engkau mau, tentu sudah sejak tadi engkau dapat merobohkan aku. Ilmu aneh apakah itu yang membuat tubuhmu begitu ringan seperti kapas terbang saja? Semua seranganku tidak ada gunanya!"

"Itu adalah Bu-eng Hui-teng, yang kupelajari dari ibuku, Mayang. Sudahlah, kita beristirahat. Engkau cukup tangguh dan kurasa, kita berdua akan mampu menjaga diri kalau mereka muncul." Kata Kui Hong sambil mengusap keringat dari lehernya, seperti yang dilakukan pula oleh Mayang. "Sekarang, mari menghimpun tenaga dan memulihkan kelenturan otot-otot, mengatur pernapasan," kata Kui Hong yang ingin agar keduanya berada dalam keadaan yang siap benar untuk memberontak sewaktu-waktu pintu besi itu dibuka. Mayang mengangguk dan keduanya lalu duduk bersila di atas pembaringan, mengatur pernapasan.

***

***Lanjut ke Jilid 043
***Kembali***